Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2019

Seringai Senja

Membuai cerita pujangga datang saat senja beranjak Melabuhkan hatinya pada sandaran itu Impian pernah dilukisnya dalam diam dan senyap segulita malam tanpa penerang Seekor induk laba-laba menanti Hanya terdiam diujung benang Lilit panjang memutar jaring Dibuatnya lama dalam putaran Untuknya bersarang dan meminang kudapan yang sesekali datang untuknya memberi rasa kenyang Tak kueja keluhnya dalam penantian Kecuali nyanyian sayap-sayap kecil Yang datang mendekati persinggahannya Tak pula kulihat geraknya karenanya Karena ia lebih mengerti jangkauannya Untuk membiarkannya berlalu lalang Disekitarnya atau merapat hingga merekat Dan menjadi bagian dari menunya Berkisah induk lain Yang memasuki istana manusia Memilih membuat sarang-sarang Dikealphaan pandang penghuninya Sengat getaran tinggi berpercik api Terkadang mendahului memangsa miliknya Manusia berebut dengan caranya sendiri Asap dan semburan embun beracun pun menjatuhkan jatah makannya sebelum saya...

Lantai Dansa Pemikat

Taut Menaut Lagu ini Bukan untuk sembunyi Dari diriku yang sedang Ingin di dalam sepi sendiri Kebebasan diri Jauh dari keinginan Terselubung benak Kedikdayaan semu Mengingkar Janji Suara ini Ingat pertanda hati Cinta yang terbuka Untuk keterpautan janji Agar dimengerti dikau Bebas tanpa bersyarat Pilih bahagia kita Cukup kata itu saja Untuk apa tamak kata Kita bicara menambah goda Lima hari dilelahkan kerja Berpaling dari jendela satu Mengalihkan pandangan kita Untuk bersama yang sebenarnya Mengisi rasa yang terdekat cinta Bicara hanya untuk  tentang kita saja Karena kita tetap punya cinta Karena nyata kita miliki Dan membiarkannya hidup Untuk selalu memberi asrti Biar mengalir syair ini Walau tanpa bernada lagi.

Sudah Start dan Awalan Belum

Lantaran melihat masih kosong adanya tambat yang datang Dikelokkan janji Suar kemudahan berpinang Kekosongan cahaya lentera pantai tak bersumbu Putaran jemari tak sedikit memakna membawa  naiknya hitungan ganjil dimata kaca penyekat tak bicara solusi dipecahkan palu tak urung memungkinkan menutup tangan kuasa  tanpa pasukan berkuda cinta dihampiri sayap-sayapnya Alat tak bertuan tukang  gendang tanpa penabuh Telinga hanya memekarkan daun jauh untuk bisa mendengar gelombang terdalam meronta dibalik kecurigaan mata mengeja ketidakmampuan diatas papan-papan penghitung yang telah kusam oleh debu.....

Banyak Cara Berkeringat

Dua pasang mata tak akan cukup Puluhan ditambah masih sedikit Enam hari belumlah genap utuh hati bertanya Bulan  menjadi penanda pusaran bercerobong Di sebelah kanan pintu bertuan punya  tanah juang Serat itu kusam bagai tanpa punya makna Tuskan jika hamba diminta  mengeja tangis pejoang dilinang air mata darah Dua warna telah kami kibar menggambar semua tekat hati tanpa lagi gentar Puluhan telah lewat dan mungkin ratusan datang dan pergi dengan licin siasat mengumbar janji tak lebih dari cara pengotor  ini tanah yang dipuja para penghuni dan penanti kebebasan di tanah kelahiran .. .. Kami punya cara Kami punya mimpi Kami tak terhitung Oleh tuan yang tak tahu ...

Naik

Membayangkan naik, kita membayangkan langkah menuju tempat yang lebih tinggi. Apakah yang kita butuhkan untuk bisa lebih tinggi? Apakah anda sendiri yang ingin naik? Aapkah orang lain ada yang juga ingin naik? Bagaimana posisi anda menempatkan diri diantara mereka?

Perhatian Ada ...

Pandanglah Bila saja ada Sedikit waktumu Pandanglah aku Apa pun adanya Cinta ini tumbuh Senyummu sudah menyentuh Memulas daya bikin bingung Kau kasih harapan dan goda Hati gelisah mencari cara lagi Sungguhkah sayangmu boleh Untuk dimiliki atau untuk yang lain Lelah jika terus hanya berandai Kamu datang untuk menxinta Damba hanya untuk alami Senang bersamamu sekarang Hingga esok saat menuanya kita Yang saling erat memiliki Artinya cinta yang sejati Akankah engkau kasih lagi Cita-cita tidak lagi jadi cibiran Karena tenaga tampak telah kita letakkan Diawal saat kita memulai hasrat kita Untuk menapaki setiap langkah kita bersama .  .......

Bisa Santaikah?

Lambung  Telah kau lempar tinggi  Diterima  Dengan kepala  Untuk dipindahkan Diolah dengan cerna gigi  Dikecap lidah  Ditelan dengan lahap  Sudah lagi  Tambah hingga kenyang  Ludes dibilangnya habis  Katakan dengan jelas  Tak sekelas wujud  Yang ada dipenghujung  Hasil disebut dengan Sebuah nama  Lambung telah berulang  Dalamnya asam cerna  Mengeruk hasil berjonjot  Lunas kisah perjalanan  Bola -bola digiring lincah  Seringan angin membubung  Gawang penantian berjaga  Tanda berbicara ditiang-tiang  Menawar perempatan berlampu  Hingga simpang tiga mewarna arah  Tanda panah menajamkan arah  Yang dituju gawang berjaga  Sarung tangan memberikan sekat  Bukan hanya untuk kekotoran permainan  Dibalik sebuah maksud  Tersemat dibalik bungkus  Darinya yang memapar arti  Sanjung yang me...

Dipeluk Gelap

Sebut dengan lembut Ia berikan Senyuman terindah Jadi jawabnya Dipilih olehnya Orang tahu Tanpa ia bicara Jauh orang mengerti Oh itu yang ia bisa Rasa suka gembiranya Tetap ada digenggam cinta Kemana ia dibawa Tujuan diserta maksud Tuntun is berdekat Erat genggam menyerta Arah mata memandang Diputar silau cahaya Kuat tahanan diri Menaut ditimbang lentur Kecil besarnya lekuk Mengenal kemana langkah Hati harus berpijak Menetap juga bertempat.

Permata Hati

Apa  Yang Aku Mau Bilang So ini lebih simple Cuma thank you Dear Bukan untuk Banyak hal Cukup untuk Kedatangan dirimu Yang rela turun Untuk dekat Dengan siapa Lagi diri ini Juga karena sebuah Alasan yang kauwujud Selayak hukum alam Begitu natural menyedap Dipandang semua mata Walau tak harus membasah Semua pipi mengiba rasa Tak perlu kau sebut sendiri Kekekalan yang menjadi Bagian dari jati dirimu Juga tanpa menarik arti Dan makna sebuah hukum Tak pula Gelora bahagia hati Karena sesaat kedatanganmu Dapat membuat bibir Banyak berkata - kata Kecuali teruntuk Hanya buat bilang Thanks a lot. Cukup Disini Ia mengerti setelah berjalanya mata yang tidak ditakutkan oleh kelelahan mengamat dari balik rangkai macam kaca-kaca pembesar ukur terhadap ia yang juga dianggap tidak tampak oleh semua mata namun baginya masih dimungkinkan wujud yang nyata dan sangat kecil itu pun adalah kehidupan dan layak baginya mendapatkan perhatian sebagaimana mereka yang luar biasa besar dalam ukuran. Seorang...

Memulai Hingga Akhir Tanpa Ujung Lagi

Memulai Hingga Akhir Tanpa Ujung Lagi     Mulai dengan normal, sebagai salah satu pilihan yang tersedia saat membuka pintu berbentuk persegi empat dan semua jendela yang ada masih tertutup rapat. Pilihan melangkah dengan normal seperti apa yang tersedia juga tidak pernah kumengerti sebelumnya. Saat itulah sedang terlihat sosok kelegaman yang menatap tanpa berucap mengeja hasrat yang bukan hanya membingungkan tapi baginya terasa berat karena ia tak berkantung perut bagai kanguru yang lincah melompat. Jauh dari pandai seorang diri hanya mengamatinya sesaat bagaimana ingin bicarakan banyak hal tentangnya yang bolak-balik kesana dan kemari ingin menemukan yang ia singgahi. Hentinya sempat mengendus beberapa tempat bagai mencari kudapan alakadar namun urung saat raga belia hilir mudik datang mengusik dan membuatnya menyingkir lebih jauh mengarah pada tempat yang lebih tenang. Sebagian orang boleh menamakan langkahnya “ebrat-ebrot” yang tak lain huyung langkah mengga...