Skip to main content

Posts

Showing posts with the label bicara

Lewat Batas Keterlanjuran

Ini tempat yang pernah kaumimpikan  Sedikit saja tak mampu kukatakan  Apa nyata isi hatimu bicara  Kubelai rambutmu dengan lembut  Andai saja bicara semua isi hati  Arti senyummu  Tetaplah senyuman terindah  Yang terasa telah menjadi terlanjur  Dan ini meresap dengan sangat dalam  Adalah caramu memandang keadaan ini  Bahwa kita memang untuk dipertemukan  Jauh dari batas akal sehat  Mengurungkan paksa mengurai logika cinta.

Dikelilingi

Garis -garis tipis  Erat saling berdekat Garis garis lurus itu Adalah karya yang dibuat  Bukan sebuah garis kebetulan  Harus tidak menjadi sebuah kata  Untuk ditempatkan pada lini itu  Pikiran boleh menjauh dari kata  Entaskan semua tanpa menyisa  Miliki kosongnya pun tanpa huruf  Awal hingga yang terakhir  Tanda juga bawalah semua esok  Ambill atau jauhkan  Nanti boleh kau sertakan semua  Ganyang semua simbol penyertanya  Gasak habis  Utuh pandangan hanya padanya  Lini yang semakin menipis  Hingga menghilang  Telah dibuatnya agar semua  Mengerti artinya batas  Sadar akan adanya bias ... Awal Goresannya  Seperti membuat atlas  Namun kini semakin jauh  Dari arti jelas  Apalagi berkelas 

Pengurasan

Memandang apa di sana Ia letakkan Telah dan bagai tanpa henti Segala cara dipilih Seakan sia-sia Tanpa guna Sudah umum Bagi mereka yang melihat dipandang tanpa guna Menghambur isi tenaga Juga kekuatan miliknya Tanpa tujuan dan arti berbekas Omong sudah tak berarti lagi... tampaknya... Memandang semua kenampakan lambaian Dengan rendah mata sebagai tempat dipilih Kering dan kematian bunga-bunga ilalang Ditempatkan selaksa yang dipertuan... Semua bukan keniscayaan untuk diikuti Apalagi dipercaya.......

Bukan Wilayahmu

Menyapa ia dengan caranya Bangsat ia bilang biasa Monyet ngapain mendekat Menjauhkanmu dalam cinta Pilihan baginya terbaik Mari masuk sejenak Mendekat dan bicaralah Hanya kemanisan basa-basi Monyong gak pakai ragu Udah mengap gak perlu banyak cakap Lagian dia tahu belianya kamu di tempat itu runyam bila dibiarkan pemangsa tak meraungkan kelaparannya  secepat anak panah taring dan gerahamnya bukan terbaik untukmu bila waktunya tiba kau pun akan dibuat mengerti saat cakram terbaikmu terbuka baginya kan...

Seringai Senja

Membuai cerita pujangga datang saat senja beranjak Melabuhkan hatinya pada sandaran itu Impian pernah dilukisnya dalam diam dan senyap segulita malam tanpa penerang Seekor induk laba-laba menanti Hanya terdiam diujung benang Lilit panjang memutar jaring Dibuatnya lama dalam putaran Untuknya bersarang dan meminang kudapan yang sesekali datang untuknya memberi rasa kenyang Tak kueja keluhnya dalam penantian Kecuali nyanyian sayap-sayap kecil Yang datang mendekati persinggahannya Tak pula kulihat geraknya karenanya Karena ia lebih mengerti jangkauannya Untuk membiarkannya berlalu lalang Disekitarnya atau merapat hingga merekat Dan menjadi bagian dari menunya Berkisah induk lain Yang memasuki istana manusia Memilih membuat sarang-sarang Dikealphaan pandang penghuninya Sengat getaran tinggi berpercik api Terkadang mendahului memangsa miliknya Manusia berebut dengan caranya sendiri Asap dan semburan embun beracun pun menjatuhkan jatah makannya sebelum saya...

Lantai Dansa Pemikat

Taut Menaut Lagu ini Bukan untuk sembunyi Dari diriku yang sedang Ingin di dalam sepi sendiri Kebebasan diri Jauh dari keinginan Terselubung benak Kedikdayaan semu Mengingkar Janji Suara ini Ingat pertanda hati Cinta yang terbuka Untuk keterpautan janji Agar dimengerti dikau Bebas tanpa bersyarat Pilih bahagia kita Cukup kata itu saja Untuk apa tamak kata Kita bicara menambah goda Lima hari dilelahkan kerja Berpaling dari jendela satu Mengalihkan pandangan kita Untuk bersama yang sebenarnya Mengisi rasa yang terdekat cinta Bicara hanya untuk  tentang kita saja Karena kita tetap punya cinta Karena nyata kita miliki Dan membiarkannya hidup Untuk selalu memberi asrti Biar mengalir syair ini Walau tanpa bernada lagi.