Skip to main content

Posts

MACAM KAMPRET

Merujuk pada apanya hingga sampai jinjingan kau hempas pada bagian terdekat hingga kini terlihat bebas.... Sebebas sayapmu menari diantara dua celah bernama ragu, tiada lain letaknya ruang ambigu... Ruang vertikal penyambung yang telah menghentikan laju jalannya arah yang dimau. Tempat yang telah kau janjikan tiada lain tempat yang masih membisu, semakin kenyal dalam hembusan dan terpaan tatkala sandingan dengan kemunculan memberikan pilihan untuk diketuk... Lewatnya malam telah  mengundangkan kemana maunya arah namun mengapa setiap langkahnya adalah menjurus pada hiperbola penggelisah.... Tiada kemunculan diri ini mendaratkan minat bagai melukis ikonik sejatinya diri seperkasa elang, menyadari bagaimana matamu berbumbu sungging senyum yang tidak lebih akan memaknainya kampret, dengan kuat alasan kau semat pada kelayakan sayap hingga kapasitas paruh yang seolah bergigi??? seruncing bambu kesinisan narasimu bagai tidak melihat kuatnya cengkeram kedua kaki tanpa pengikat. Aku dan dir...

Ambang Aku Dibawa Pada Pengertiannya

Warna yang kudapat  Saat angin keberuntungan itu Mendekatiku tiada lain adalah  Bukan wujud apa yang diberikan  Setelah semua itu berlalu  Bagaimana cara ia menunjukkan  Sebuah kepercayaan terhadap Diriku yang terkecil dan menyimpan rasa ingin tahu... Yang selorohnya itu dapat lebih dari kekuatan segala macam dendam ^😂 Bagaimana ia meramu segala macam pengikut dilentingkan dengan busurnya sampai tinggi melewati derajat setiap pasang mata yang berada hanya berdiam tatkala hanya sisa suara yang ada.... tanpa tahu lagi arah dan letak; Pembicaraan seperti angin lalu  Seolah-olah... Tiada perlu lagi  Pengaturan kapan keinginannya  Semua akan terjawab semua... Nanti, esok atau kelak ... masih Menjadi sebuah ruang penantian  🙄🐑

Satu Titik Ujung Saja

  Sebuah tanda, menanda semua ... Bagaimana bisa? Tinju dapat dikepalkan sebagai penolakan, Umpatan dan segala sebut  Buatnya yang dirundung nasib  Sangat mudah ditambahkan  Bicara tidak selalu mudah  Saat durjana bibir berangan mampu tanpa menyulut taut dendam mendaratkan sebut... Matamu melihat pilihan terbaik buatmu tidak selalu pertama tamak lalu memilih yang terbesarnya nilai bilangan bagi pemula... Memandang sekali pada satu perubahan, haruskah menguliti dada kerempeng yang kedinginan dipinggir comberan  Kini semakin lirih salsa penabuh ruang yang meriangkan gadis -gadis dahulu, tetap dijadikan ritme lenggak-lenggoknya dengan tuntunan kekinian pemilik otot belia Adab dalam kesabaran mencoba semakin dirasakan yang ikut dalam bersamanya langkah berirama sambil memaksa dirinya sendiri punya kemampuan tersenyum merasakan tarikan otot-otot agar tetap memiliki elastisitas ; Sebuah kedatangan bukan sebagai pemaksaan  Sapaannya tiada lain sebagai sebuah ...

Dalam Satu Moyang

Wajah itu telah berbentuk  Bila melewatinya ada kepastian  Akan mudahnya tangan kita meraba  Namun itu bukan mukamu  Tiada ingat harus berapa kali memutar  Hingga dapat menemukan sebagai bentuk dari keaslian  Bagian yang utama untuk dicari kembali Berlainan ibu sudah menentu kemana laku menuju  Ketiadaan akan kesamaan bapa  luput untuk dapat menamai sebagai sekandung dalam iringan temunya kata hati  Hanya sekecil arah cara moyang memberi tanda sebagai pemudah  Seperti para pengiring yang pernah disertakan pada pilihannya hingga mampu menemukan bagian tersulit itu bagi mata orang kebanyakan =:

Pengait Hati

  Asal kau tahu saja  Bukan untuk memaksamu  Cukup lihat dan dengarkan  Dengan duduk atau tiduran  Engkau sangat berarti bagiku  Meskipun sedikit yang kutahu  Kendati terbatas dapat nelihatmu  Juga hanya sekelumit mendengar Bagaimana semua itu tentang kamu  Telah tumbuh dari sana  Pengait kecil dihati ini  Terhubung mengulir bentuk ingatan tentang keindahanmu  Janji pesona jiwamu mendekati  Membentuk arah lakunya kita berdua kan bersua dalam  Destiny...atau apa pun namanya  Bagi kita esok...

Bernama Keadaan

  "...jika perantauan itu telah memisahkan, untuk apa pula menyalahkannya..?" $@ma dengan situasi, saat orang sedang menemukan sebuah tulisan lalu membacanya, hingga mengeja maksud dan isi tulisan, kira-kira seperti keadaan itu. Sedapat mungkin ada yang berkeinginan tinggi, untuk sampai tahu apa sebenarnya isinya, sementara yang lain melihat bagaimana ia membaca, dan sisanya sebagian ada yang sekedar mengamati tempat membacanya dan mendengarkan keramaian lain yang baru didengarnya di sekitar tempat itu; bahkan yang tidak bisa menahan kantuk pun merasa tahu tentang apa yang dibacanya disana, bagaimana bisa semua dan masing -masing keadaan itu dijadikan sebuah bagian terpenting? Sedangkan yang sangat ingin diketahui sebebarnya adalah apa isi naskah yang dibacakannya, namun karena ia bersama sang pembuat, ia menerima saja semua jawaban yang sampai kepadanya, juga dengan senyuman pertanda terima kasih dan kelembutannya.

Putus Nyambung Sepasang Hati

Ketika sejumlah kepala  Sedang menyibukkan dirinya  Mencurahkan arah bincangnya  Dalam sebutan kebersamaan  Dalam nama kemungkinan  Terpisah dari semua  Keadaan itu  Ruang kecil punya sendiri  Cerita pemikiran terus berjalan  Mengenali jangkau dan jarak hitungan  Baginya telah melilih melanglang melewati kemungkinan, melewati pembicaraan sejumlah kepala di sana  Meskipun tiada diingini membuat semua yang baru bicara sampai pada kemungkinan akan terkencing-kencing bila harus mengikutinya .... Seolah tahu, seolah menjawab namun jauh dari semua arah , terkadang ada nyambungnya, selebihnya nihil.... Ia yang kembali terkulai, tidak mengungkap keputusasaan, sadar menilik jauhnya rentang, semua hanya membiarkan kembalinya raga kini tertidur dalam dirinya, apa adanya.... Seperti saat-saat berulan padanya peristiwa itu di sana, melewati apa yang dibukakan baginya untuk dilewati.... Lupa bila diantara tertidurnya ia sempat ingin bertanya, bag...